Pondok Pesantren As Salafiyah Desa Sera Barat

Santri Harus Bisa Membaca Kitab Bertuliskan Arab

Hidup adalah budi pekerti. Itulah moto yang ditanamkan pada santri pondok pesantren As Salafiyah. Alasannya, dengan budi pekerti yang luhur, seseorang akan lebih terhormat di mata manusia yang lain. Sehingga, dalam kesehariannya pesantren ini tidak pernah berhenti mengkaji kitab. Mengapa?

Pondok Pesantren As Salafiyah termasuk salah satu pesantren yang menerapkan sistem salafiyah. Yakni, segala kurikulum dan metode yang dipergunakan didalamnya menggunakan bahasa kitabiyah. Bahkan, santri diharuskan membaca kitab-kitab bertuliskan arab.

Pesantren di Desa Sera Barat, Kecamatan Bluto ini didirikan sekitar 1960 oleh KH Mohammad Zain (alm). Sejak awal berdiri, pesantren ini komitmen untuk menerapkan metode penguasaan ilmu agama saja.

Menurut Kiai Moh Subki dari keluarga pesantren, komitmen itu sesuai dengan permintaan masyarakat sekitarnya. Sebelum berdiri, Kiai Mohammad Zain enggan menerima permintaan masyarakat. Dengan alasan, dirinya masih awam mengenai persoalan agama. "Beliau (Kiai Zain, Red) menolak dengan cara halus," katanya.

Tapi, lanjutnya, semakin ditolak, masyarakat semakin memberi kepercayaan kepada beliau. Sehingga, sekitar 1960 didirikan pesantren As Salafiyah.

Dari tahun ke tahun, keberadaan pesantren semakin dikenal banyak kalangan. Sehingga, sejumlah masyarakat mulai memondokkan putranya ke pesantren ini. Pada 1980-an, dibangun asrama dan gedung tempat santri belajar. "Dengan fasiltas tersebut, para santri lebih betah menekuni bidang keilmuan," jelas Kiai Subki.

Meskipun Ponpes As Salafiyah mulai merenovasi, namun tujuan dasar pesantren sebagai lembaga keagamaan bersistem salafiyah tidak pernah hilang. Setiap hari, usai sholat lima waktu, semua santri diharuskan mengaji kitab kuning. Baik yang sifatnya membaca langsung atau mendengarkan dari pengasuh.

Hingga kini, lembaga pendidikan yang dimiliki pesantren As Salafiyah beragam. Mulai tingkat raudlatul adfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), hingga Madrasah Tsnawiyah (MTs). Jumlah santri 125 orang. Sejak wafatnya KH Mohammad Zain, kendali pesantren dijalankan KH Ahmad Daidla'i. (ZAITURRAHIEM)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 21 Agustus 2008

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda