Lintu Tulistyantoro Dosen 'Spesialis Madura'

Tertarik Madura karena Dekat dengan Penjual Sate

Awalnya, Lintu Tulistyantoro pergi ke Madura hanya untuk membuktikan berbagai stigma tentang penduduk di Pulau Garam tersebut. Namun, ternyata Madura telah mencuri hatinya.

Di kampusnya, Universitas Kristen Petra, Lintu Tulistyantoro kerap disapa 'spesialis Madura'. Itu disebabkan dia begitu banyak menghasilkan tulisan tentang negeri karapan sapi tersebut. Semua tulisannya bercerita tentang desain dan fungsi ruang arsitektur Madura. Bahkan, beberapa di antaranya sudah dipresentasikan di tingkat internasional oleh ketua jurusan Desain Interior UK Petra tersebut.

Februari tahun ini, Lintu pergi ke Ahmedabad, India. Dia mempresentasikan penumpukan fungsi ruang pada langgar (surau) di kompleks rumah keluarga Madura. Tulisan bertajuk The Idea of Heterotopy in the Dwelling of The Indonesian Madura itu dibawakan Lintu dalam event 4th International Seminar on Vernacular Settlement.

Makalah Lintu membahas bahwa langgar tak hanya digunakan untuk beribadah. Langgar juga kerap digunakan untuk menerima tamu, bekerja, bahkan bermain anak-anak. "Tulisan ini terinspirasi teori Michel Foucoult. Ternyata, teori penumpukan ruang tidak hanya di luar negeri. Di Indonesia juga ada," jelas pria yang meraih Master of Design dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2004 tersebut.

Pada even yang sama dua tahun lalu, Lintu juga membawa tulisan tentang Madura. Dia membuat dua tulisan. Yaitu, The Tegal Cosmological Value of The Society of Madura in The living Complex of Adipati Sumenep dan Tanean Lanjang, The Traditional Dwelling of The Society of Madura. Keduanya membahas kompleks rumah keluarga di Madura.

"Reaksi pertama ketika orang mendengar penelitian saya adalah 'kenapa kok Madura?' Setelah saya jelaskan, pertanyaannya jadi, Begitu ya, pola pikir dan cara hidup orang Madura?'," kata Lintu.

Dia pun tak kaget terhadap pertanyaan itu. Sebab, literatur tentang Madura memang tergolong minim. Tulisan tentang budaya Madura, jika dibandingkan dengan Jateng atau yang lain, tergolong sedikit.

Lintu lahir dan besar di Wonosobo, Jateng. Persentuhannya dengan budaya Madura bermula saat dia berkenalan dengan penjual sate yang tinggal di dekat rumahnya. "Dia perempuan Madura yang baik sekali," katanya. Lintu kerap diajak main ke rumah penjual sate tersebut. Lintu kecil kerap diberi bermacam-macam barang. Malah, dia juga dianggap sebagai anaknya sendiri.

Tapi, ingatannya tentang perempuan Madura yang baik itu mulai terusik saat Lintu remaja. Begitu banyak cerita dan stigma miring tentang warga Pulau Garam tersebut. Karena itu, Lintu bertekad lebih mengenal orang Madura. Dia ingin mengunjungi langsung pulau di utara Jawa Timur itu. Tapi, keinginannya terganjal. Orang tuanya tak merestui.

Lawatan Lintu ke Madura baru terwujud saat dia kuliah di Jurusan Desain Interior UK Petra. Apalagi, dia punya kenalan perempuan Madura yang telah memikat hatinya. Beberapa kali ke sana, Lintu menemukan hal lain yang juga membuatnya jatuh cinta. Yaitu, desain dan fungsi ruang yang memesona. Terutama, ukir-ukiran di makam bangsawan dan batik khas Madura.

Kisah kasih Lintu dengan si wanita memang kandas. Namun, rasa cintanya pada Madura tak luntur. Bahkan, dia pun kian kerap menyeberangi Selat Madura, mengeksplorasi Pulau Garam. Dalam setahun, dia mengunjungi Madura dua hingga tiga kali. Tak jarang, dia memandu peneliti asing yang ingin mengenal Madura lebih dekat.

''Saya menemukan banyak hal yang menarik tentang Madura. Misalnya, perbedaan pola pikir antara penduduk Madura Barat dan Timur. Lalu, banyaknya hiasan ukir-ukiran yang dipengaruhi budaya asing serta bagaimana mereka mengatur kompleks rumah tinggal,'' ujar pria yang menjadi dosen Desain Interior UK Petra sejak 1998 tersebut.

Lintu mencontohkan kompleks rumah tinggal keluarga tradisional di Sumenep, Madura, yang disebut Tanean Lanjang. Setiap keluarga mempunyai halaman yang digunakan untuk bercocok tanam. Karena itu, mereka tergolong masyarakat ladang yang menggantungkan diri pada halaman tersebut. Mereka yang masuk golongan itu cenderung bersifat individual dan tidak bergantung pada orang lain.

Pada sisi halaman yang memanjang, terdapat rumah tinggal yang hanya dihuni perempuan. Anak laki-laki yang belum akil balig tinggal di langgar yang berada di ujung halaman. Di seberang rumah tinggal terdapat kandang ternak. ''Rumah tinggalnya sempit sekali. Isinya hanya ranjang. Ini milik perempuan. Jadi kalau menikah, yang pindah ke sana ya laki-lakinya," jelas Lintu.

Sekarang rumah tradisional seperti itu sudah banyak ditinggalkan. Namun, ada beberapa budaya lain yang masih terjaga. Misalnya, bagi warga Madura, perempuan dan agama adalah kehormatan yang harus dijaga. "Kalau diejek soal yang lain, mereka tidak akan marah. Tapi, kalau perempuan di keluarganya atau agamanya yang diusik, mereka bisa marah dan tak segan membunuh. Seperti carok itu," jelasnya.

Saat meneliti, Lintu pernah membuat kesalahan yang bisa membahayakan keselamatannya. Ketika membawa peneliti perempuan dari Inggris, dia nekat masuk ke dalam kompleks rumah sebuah keluarga. Padahal, waktu itu tidak ada seorang pun laki-laki. "Untung saya bawa peneliti asing. Jadi, ketika laki-laki di keluarga itu pulang, saya tidak diapa-apakan," ujarnya lantas tertawa kecil.

Banyaknya peneliti asing di Madura memang membuat Lintu prihatin. Sebab, data tentang Madura justru lebih banyak dimiliki researcher luar negeri ketimbang peneliti lokal. Bahkan, dia banyak mendapat referensi soal Madura dari buku yang disusun Helene Bouvier, peneliti Prancis. Buku itu berjudul Lebur, Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura. "Ironis, ya," kata Lintu. (ANY RUFAIDAH)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 07 Juni 2008

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda