Pir-piran Jelang Telasan Topa' di Desa Dharma Tanjung
Dulu Naik Andong untuk Silaturahim, Kini Ajang Pamer Diri
Mempertahankan tradisi suatu keharusan. Mungkin komitmen itulah yang tetap dipegang oleh masyarakat Madura, khususnya, warga Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong, Sampang. Mereka sampai saat ini tetap melestastarikan budaya Pir-piran yang digelar semarak tiga kali dalam setahun.
SUASANA Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong sehari pasca Idul Fitri 1430 Hijriyah atau Senin (21/9) benar-benar meriah. Hari itu, warga setempat menggelar tradisi Pir-piran mulai pukul 15.00 sampai 18.00. Seperti tahun sebelumnya, ritual yang digelar guna merayakan hari kemenangan tersebut mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas Sampang-Pamekasan.
Berdasar pantauan koran ini, suasana desa paling timur di Kabupaten Sampang ini benar-benar beda dibanding hari biasanya. Warga setempat yang tampak bangga mengenakan baju dan sandal baru, mejeng di pinggir jalan. Mulai dari anak kecil, muda-mudi, hingga orang tua pun ikut memeriahkan perayaan Pir-piran.
Abd. Waris, salah seorang warga Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan mengatakan, tradisi tersebut sudah dilakukan masyarakat Desa Bandaran dan Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong, Sampang secara turun temurun. Salah satu tujuannya, mempererat tali silaturahmi warga Bandaran dan Dharma Tanjung.
"Tradisi ini digelar tiga kali dalam setahun. Rinciannya sehari pasca Idul Fitri, sehari pasca Tellasan Topak, dan sehari pasca perayaan hari Idul Adha. Uniknya, warga silaturahmi sambil menaiki andong," katanya.
Dijelaskan, dalam bahasa Madura Pir-piran diartikan naik andong atau dokar. Sebab Pir sendiri diartikan sebagai Andong. "Pir sebutan orang Madura untuk andong roda 4 di zaman dulu. Kalau sekarang, andong hanya memiliki 2 roda," terang Sofyan, salah seorang warga Desa Tanjung.
Berdasar kepercayaan dan cerita leluhur warga setempat, naik andong saat hari raya merupakan sebuah kemuliaan. "Karena itu, warga zaman dulu selalu naik andong saat bersilaturahim dengan sanak famili," paparnya.
Kamaluddin, salah seorang tokoh pemuda Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong menambahkan, nilai histori tradisi Pir-piran dinilai sudah mulai bergeser dari esensinya. "Sepertinya, saat ini sudah mulai mengalami pergeseran," katanya.
Menurut dia, kegiatan Pir-piran saat ini terkesan sudah berubah menjadi acara urakan yang dilakukan di pinggir jalan. Sebab, lanjutnya, bukan lagi salam-salaman untuk saling meminta maaf yang dikedepankan. "Sebaliknya, malah berjoget ria," ungkapnya.
Perubahan tersebut, lanjut Kamal, juga bisa dilihat dari gaya dan model warga. Sebab ada yang mengendarai andong dan sebagian lagi naik becak untuk sekadar berputar-putar memamerkan diri. Bahkan, ada pula yang bergaya ala artis Manohara Odelia Pinot dengan kacamata besarnya. Termasuk, berusaha tampil mewah dengan perhiasan.
Sementara laki-lakinya memilih joget berkelompok di pinggir jalan. Seperti yang dilakukan Agum bersama sejumlah temannya. Bocah imut tersebut tampil percaya diri ala Kuburan Band. "Kesannya, momentum Lebaran dengan cara bersalam-salaman sudah tidak tampak lagi," imbuh Sofyan.
Kepada koran ini, baik Abd. Waris, Sofyan, dan Kamaluddin sangat berharap tradisi tersebut tetap lestari tanpa merubah tujuan tradisi yang menghendaki semakin eratnya tali silaturahim. "Kalau sudah mengalami perubahan seperti ini, kan eman," pungkas Sofyan. (c17/yan/ed)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 24 September 2009
Label: camplong, pir piran, tellasan topa, tradisi


