Pondok Pesantren Nurul Karomah
Desa Paterrongan

Hasil Istikharah, Dibangun dalam Waktu Sehari

Banyak cerita unik melatarbelakangi berdirinya pondok pesantren (ponpes) di Madura. Rata-rata, pendirian pesantren dilatar belakangi isyarah melalui mimpi. Seperti Ponpes Nurul Karomah di Desa Paterrongan, Galis.

Ponpes Nurul Karomah banyak dikenal masyarakat Bangkalan. Selain jumlah santrinya cukup banyak, pesantren ini berdiri di tepi jalan provinsi yang lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari pasar tradisional Galis.

Menurut Pengasuh Ponpes Nurul Karomah KH Abdul Fatah, berdirinya pesantren diawali isyarah mimpi mendiang ayahnya. Saat itu, dia baru selesai menuntut ilmu agama di Ponpes Sidogiri, Pasuruan.

"Saya awalnya tinggal di Desa Tanah Merah Laok, Kecamatan Tanah Merah. Sepulang mondok, saya diberi kepercayaan untuk tinggal di Paterrongan. Karena ayah saya mendapatkan petunjuk dari Istiharahnya agar saya tinggal dan mendirikan pesantren disini (Desa Paterongan, Red)," kata Kiai Fatah mengawali ceritanya.

Mendapat petunjuk seperti itu, Kiai Fatah langsung pindah dan menempati rumah sederhana di Desa Paterrongan, Galis. Apa yang disampaikan sang ayah dia sampaikan kepada penduduk setempat di tempat tinggal barunya. Penduduk desapun tertarik untuk turut serta membangun ponpes.

Mereka menganggap petunjuk yang disampaikan pada ayahnya merupakan petunjuk dari Allah SWT. "Diluar dugaan. Ternyata masyarakat mendukung penuh. Mereka ingin di sekitar mereka di bangun pesantren. Selain tempat belajar anak-anak, mereka juga berharap ponpes bisa memberi pengetahuan berguna sebagai bekal hidup generasi penerus mereka kelak," tuturnya.

Keinginan warga semakin tinggi ketika Kiai Fatah menentukan lokasi tanah yang akan didirikan ponpes. Tanpa ada pembicaraan sebelumnya, warga sudah menyiapkan material untuk membangun ponpes. Maka, pada hari yang sudah ditentukan, pembangunan ponpes dimulai.

"Saya bersyukur. Bayangkan, ponpes itu bisa berdiri (dibangun, Red) dalam waktu sehari. Ternyata warga merancang kebutuhan untuk pembangunan ponpes di rumah mereka masing-masing. Jadi, saat dibangun, semua material yang dibutuhkan sudah ada," terang kiai murah senyum ini.

Resminya, kata Kiai Fatah, ponpes Nurul Karomah di bangun pada 1991. Dan santri pertama yang masuk berjumlah satu orang. Namun, semakin hari jumlahnya terus bertambah. Bahkan, santri yang mondok di pesantren ini bukan hanya berasal dari sekitar Desa Paterrongan. Mereka juga berasal dari desa lain yang jaraknya puluhan kilometer dari pesantren.

"Awalnya santri berasal desa sini saja (sekitar Desa Paterrongan, Red). Tapi, setelah beberapa lama, banyak yang datang dari desa lain untuk mondok di sini. Kebanyak orang tua mereka merantau di luar pulau," paparnya.

Kini, jumlah santri yang menetap di Pones Nurul Karomah berjumlah 456 orang. Mereka tidak hanya menuntut ilmu di pesantren yang memertahankan tradisi salaf. Tapi mereka juga menuntut ilmu umum di sekolah formal Islam yang juga berdiri di komplek ponpes. "Di sini juga ada sekolah formal. Santri-santri belajar di sekolah mulai pukul 07.15 sampai 12.45. Setelah itu, mereka kembali ke ponpes untuk belajar kitab," terang Kiai Fatah.

Sebelum ke sekolah, sambungnya, santri diwajibkan memelajari kitab. Rutinitas itu dilakukan usai sholat subuh hingga pukul 06.15. Hal yang sama dilakukan santri setelah menempuh pendidikan formal di sekolah hingga usai sholat Isya. "Itu kan aktivitas hampir di semua ponpes," tegasnya.

Untuk aktivitas spiritual yang bertujuan memerkuat ketakwaan dan keimanan para santri, pesantren mewajibkan santri bangun tengah malam. Mereka diharuskan salat malam bersama dan memelajari makna kitab yang ditekankan pada nahwu dan shorrof. "Kami menggunakan bahasa Jawa untuk memaknai tulisan Arab pada kitab yang dipelajari. Lalu diartikan dalam bahasa Indonesia. Itu seperti yang dilakukan para wali jaman dulu. Sehingga bisa lebih mudah dipahami," paparnya.

Selain aktivitas spiritual dan pembelajaran, Kiai Fatah juga mendorong santrinya menguasai bahasa asing dan keterampilan teknologi. Diantaranya pelatihan dan les bahasa Inggris dan Arab. Serta pendidikan komputer untuk semua santri. (NUR RAHMAD AKHIRULLAH)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 12 Agustus 2008

Label: , , , ,

1 Komentar:

Pada 3 September 2016 07.33 , Blogger Moh Mustain mengatakan...

Smoga PP Nurul Karomah Semakin Jaya...Amien Ya Rabbal Alamien....

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda