Oktober, Suhu Madura Makin Panas

Pertanyaan banyak orang tentang kapan akan turun hujan di Madura belum terjawab. Rilis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pusat melalui BMG Maritim (Surabaya) belum menunjukkan ada tanda-tanda musim kemarau akan berlalu. Kondisi itu terjadi hampir di seluruh Madura. Termasuk Bangkalan yang biasanya "mendapatkan" hujan lebih awal dari kabupaten lain di Madura.

Berdasarkan hasil ukur BMG Maritim Surabaya, hingga kemarin (30/9) suhu udara di Bangkalan tergolong tinggi. Tak heran jika banyak warga mengeluh kepanasan meski sudah di dalam ruangan. Suhu udara dipastikan makin tinggi memasuki Oktober. Sebab, posisi matahari telah bergeser ke arah mendekati garis khatulistiwa. Itu berarti posisi matahari semakin dekat dengan bumi dan dampak radiasinya akan makin terasa "membakar kulit".

Supeno, prakirawan BMG Maritim, mengatakan, hingga kemarin suhu udara di Bangkalan dan sekitarnya mencapai 37o Celcius. Angka itu tergolong tinggi jika dibandingkan dengan suhu normal yang rata-rata 33o sampai 34o celcius(C). "Itu (37o C) suhu yang terasa kalau kita ada di luar ruangan. Di dalam ruangan suhunya hanya turun jadi 35o C. Normalnya dalam ruangan suhunya 30o C. Jadi, tergolong panas juga," terangnya.

Panasnya radiasi matahari yang banyak dikeluhkan pada bulan September berlanjut hingga memasuki Oktober. Bahkan, di bulan kesepuluh kalender Masehi ini radiasi matahari yang sampai ke bumi makin terasa panas. "Meski hanya naik satu derajat panasnya menyengat juga," tandas Supeno. Hasil hitung BMG, suhu Madura di Oktober mencapai 38o C hampir setiap hari.

Dekatnya matahari dengan permukaan bumi rupanya tak membuat penguapan air laut berpotensi hujan. Bahkan, selama empat dekade (40 hari) ke depan langit akan cerah tanpa awan. "Suhu udara memang ada hubungannya dengan pembentukan awan hujan. Tidak ada awan berarti tidak ada tanda-tanda akan turun hujan," tandasnya.

Tanda-tanda akan turun hujan biasanya tampak jika penguapan air laut membentuk awan comulus. Sementara kemungkinan awan yang akan terbentuk hingga akhir Oktober ke depan adalah awan altocomulus. Awan ini berwarna putih dan tidak potensi hujan.

"Awan yang menyebabkan hujan hanya awan rendah. Sampai sekarang awan seperti itu belum pernah tampak," tuturnya.

Lalu kapan akan turun hujan? Dijelaskan, pihak BMG Pusat maupun Maritim belum merilis data terkait kapan awal musim hujan. Melihat perubahan cuaca tahun lalu dan pengamatan, tahun ini musim hujan diprediksi mundur. "Bisa jadi sampai empat dekade (40 hari) ke depan. November mungkin juga belum hujan juga," katanya.

Kemungkinan lainnya, Madura dan sekitarnya mengalami el nino. "El nino itu kebalikan dari la nina. El nino berarti musim penghujan dengan curah hujan yang sangat kecil. Sehingga potensi kekeringan masih besar meski sudah masuk musim hujan," jelasnya. (nra)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 01 Oktober 2009

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda