Jangan Lupakan Madura

Sebagian warga Madura telah melupakan tanah airnya. Mereka telah mengabaikan kesederhanaan dengan cara berfoya-foya. Padahal, warga lainnya masih hidup dalam kemiskinan dan dililit utang. Sementara Madura sendiri memiliki budaya idealistik yang jauh dari tindakan negatif.

Pernyataan ini disampaikan D. Zawawi Imron saat orasi budaya di SMK (RSBI) kemarin. Penyair yang dikenal dengan sebutan si Celurit Emas ini mengatakan, mantan Rektor Universitas Al Azhar Mahmud Syaltut menilai negeri ini sebagai negara yang makmur. Pujian itu diabadikan pemusik Koes Plus dalam sebentuk lagu Kolam Susu. Salah satu baitnya, Zawawi menyebutkan, tongkat dan kayu (yang ditanam di Indonesia) menjadi tanaman. "Tetapi sekarang, bagaimana wajah negeri ini?" katanya.

Pada konteks Madura, menurut Zawawi, remaja saat ini tidak lagi mencerminkan sebagai generasi yang santun. Dia membagi santun kepada sebangsa manusia, Tuhan, dan alam. Kata dia, generasi muda lebih menyukai destruktif daripada konstruktif. Padahal, Tuhan telah mengajarkan kesopanan kepada hamba-hambanya melalui wahyu Alquran.

Itu sebabnya, Zawawi mengingatkan generasi muda Madura agar tidak melupakan budaya idealistik yang diwariskan leluhurnya. Dulu, kenangnya, orang Madura yang merantau ke Jawa atau luar Jawa dengan bangga mengakui dirinya sebagai warga Madura. Tapi, Zawawi menggelengkan kepalanya ketika dalam sebuah bus mendengar dua pemuda bercakap dengan bahasa Indonesia justru di dalam perjalanan dari Sumenep ke Pamekasan. Dari logatnya, pemuda itu orang Madura. Celakanya, pemuda itu mengaku bukan asli Madura, meski dari logatnya tidak bisa dipungkiri sebagai warga Madura. "Ayat mana lagi yang mereka dustakan?" katanya dengan bercanda.

Di ujung orasinya, Zawawi didaulat membaca puisi. Secara acak, budayawan asal Batang-Batang, Sumenep, ini memekikkan puisi berjudul Madura Akulah Darahmu. Ketika membaca puisi ini, ratusan mahasiswa se Madura tercengang. Terutama saat si Celurit Emas nyaris menangis lantaran khusuk membaca puisi yang mendapat anugerah dari Balai Pustaka itu. (abe/mat)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 24 September 2009

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda