Sebagian Warga Sumenep Puasa Hari Jumat Ini

Bulan Muda Tak Terlihat, Puasa 22 Agustus

Perkiraan bahwa pelaksanaan awal bulan Ramadan tahun ini akan bersamaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah ternyata terbukti. Pasalnya, pengamatan secara langsung atau rukyat yang dilakukan tim rukyat NU gagal melihat hilal (rembulan usia muda yang menandai pergantian kalender, red), meski cuaca cerah, Kamis (20/8) kemarin.

Karena itu, NU menggenapkan (istikmal) umur bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dan berdasar hal ini, awal Ramadan dipastikan jatuh pada hari Sabtu (22/8) besok.

Keputusan awal Ramadan yang disebutkan Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim tersebut sama dengan hasil Musyawarah Majelis Tarjih Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim pada 18 Juli 2009 lalu, yang menyatakan bahwa berdasar hasil ijtima’ (hisab atau perhitungan) awal Ramadan akan jatuh pada 22 Agustus.

Sebelumnya, pada 4 Agustus lalu, hasil rapat Badan Hisab Rukyat (BHR) Kanwil Depag Jatim dengan semua perwakilan ormas di Jatim, ahli ilmu perbintangan (falakiyah), dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) juga sepakat, berdasar hitungan hisab awal Ramadan jatuh pada 22 Agustus. Sedangkan Hari Raya Idul Fitri diputuskan jatuh pada 20 September.

Selama ini, di Indonesia penentuan kalender Islam secara umum didasarkan pada dua metode. Yakni hisab (perhitungan matematis dengan menggunakan ilmu astronomi) dan rukyat atau pengamatan secara langsung terhadap bulan untuk melihat apakah bulan sudah berganti atau belum.

Koordinator Tim Rukyatul Hilal PWNU Jatim Sholeh Hayat mengatakan, dari 11 tim yang disebar ke 11 tempat di Jatim untuk melihat bulan, pihaknya tidak mendapati ada bulan yang terlihat dengan jelas oleh mata telanjang.

Di Tanjung Kodok Lamongan, bulan tidak terlihat karena terhalang mendung. Hal yang sama juga terjadi di Bukit Condro Giri Gresik dan Pantai Serang Blitar. Sementara di Pantai Ambet Pamekasan, Pantai Nambangan Kenjeran Surabaya, dan Pantai Gebang Bangkalan meski cuaca cerah, bulan tetap tidak kelihatan.

“Karena hasil rukyatul hilal tidak berhasil melihat bulan, maka umur bulan sya’ban diistikmalkan menjadi 30 hari. Sehingga awal Ramadan jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus,” ujar Sholeh kepada Surya, Kamis (20/8) sesaat setelah mendapat laporan dari tim rukyatul hilal dari PWNU Jatim.

Menurut Sholeh, hasil pengamatan tim rukyatul hilal PWNU Jatim diteruskan kepada Pengurus Besar (PB) NU di Jakarta. Selanjutnya, hasil pelaksanaan rukyat di seluruh Indonesia dan juga penghitungan hisab akan dibahas dalam sidang itsbat (penentuan) oleh Departemen Agama (Depag) untuk memastikan awal Ramadan 1430 H.

Pada malam hari kemarin, berdasarkan masukan dari ormas-ormas Islam (termasuk NU dan Muhammadiyah), dalam sidang di Jakarta, Depag kemarin juga menentukan bahwa awal Ramadan jatuh pada 22 Agustus.

Apakah pelaksanaan lebaran antara NU-Muhammadiyah juga sama? Ditanya demikian, Sholeh memperkirakan dapat juga terjadi kesamaan. Karena berdasar hisab tim PWNU Jatim, awal syawal jatuh pada 20 September. Karena ijtima’ pada 19 September mendatang tepat pukul 01.33.23 WIB dengan tinggi hilal berada pada 07 derajat. “Dengan ketinggian hilal seperti itu, kemungkinan satu Syawal akan jatuh pada 20 September,” imbuhnya.

Sebelumnya, Sekretaris PWM Jatim, Nadjib Hamid, mengatakan penetapan hari pertama bulan Ramadan 1430 H jatuh pada 22 Agustus didasarkan pada perhitungan sistem hisab hakiki dengan markas Tanjung Kodok, Paciran, Lamongan. Hasilnya, ijtima’ akhir bulan Sya’ban 1430 H terjadi pada hari Kamis Kliwon, 20 Agustus 2009, bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1430 H, pukul 17.03 WIB.

Sedangkan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H jatuh pada hari Minggu (Ahad) legi, 20 September 2009. “Sehingga usia bulan Ramadan menjadi 29 hari,” terangnya.

Kendati pemerintah dan dua organisasi besar keagamaan (NU dan Muhammadiyah) telah memastikan awal Ramadan pada 22 Agustus, Jemaah Tarikat Naqsyabandiyah Kholidiyah (NK) atau biasa disebut Islam aboge, belum memastikan kapan memulai puasa. Sebab, rukyat versi mereka baru akan dilakukan Jumat (21/8) sore ini.

Selama ini, permulaan puasa dan jatuhnya Idul Fitri serta Idul Adha yang diputuskan komunitas aboga, hampir selalu berbeda dengan pemerintah. Dalam dua tahun terakhir ini saja (2007-2008), komunitas aboge salat Idul Fitri selalu berbeda, yakni satu hari setelah lebaran versi pemerintah.

Jemaah NK sendiri berjumlah sekitar 2.500 orang. Sebagian besar, 1.000-an orang, berada di Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Selebihnya di luar Jombang. Di antaranya Lamongan, Pare, Aceh dan Kalimantan.

Sementara itu, sebagian warga Kabupaten Sumenep, Madura, justru mulai berpuasa pada hari Jumat (21/8) ini. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Karawi di Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding, Sumenep, K.H. Fayyat As’ad menjelaskan, pihaknya mulai melaksanakan salat tarawih Kamis (20/8) malam kemarin. Itu berarti hari ini mulai berpuasa.

“Kami memang akan mulai berpuasa Ramadan pada hari Jumat. Kami punya pedoman sendiri dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadan,” kata Fayyat di Sumenep.

Ia menjelaskan, keputusannya untuk melaksanakan puasa pada hari Jumat dipastikan akan diikuti oleh sebagian warga di Kecamatan Ganding, Lenteng, dan Manding.

“Santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Karawi yang tersebar di sejumlah kecamatan di Sumenep biasanya bertanya pada kami tentang awal dan akhir bulan Ramadan. Kalau kami mulai berpuasa pada hari Jumat, tentu santri dan alumni juga akan melakukan hal sama,” katanya seperti dikutip Antara. (uji/st8)

Sumber: Surya, Jumat, 21 Agustus 2009

Label: ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda